Munuju PEMILU 2014 : Pencarian Pemimpin Baru


PEMILU 2014 di depan mata. Saat dimana  akan dipilihnya wakil-wakil rakyat di Parlemen dan Presiden sebagai kepala negara. Di indonesia, entah mengapa gengsi pemilihan kepala negara lebih tinggi dibandingkan dengan pemilihan anggota Parlemen pusat ataupun daerah. Terbukti, kini media di Indonesia lebih banyak memberitakan kemungkinan-kemungkinan siapa penerus  SBY yang tidak mungkin dipilih kembali. Namun, hingga kini belum ada figur baru dari kalangan Partai Politik yang mencolok dan menarik perhatian masyarakat.

Media memegang peran penting dalam pencarian pemimpin baru di negeri ini. Kecenderungan masyarakat yang mudah dipengaruhi media adalah alasan utamanya. Akan menjadi bencana apabila hingga detik-detik terakhir PEMILU 2012 dilaksanakan masyarakat Indonesia belum menemukan figur baru yang dianggap layak menjadi pemegang amanah.

Figur Partai Politik Sudah Tak Punya Harapan

Berbagai kasus yang diisukan dilakukan oleh beberapa kalangan Partai Politik membuat masyarakat menjadi antipati. Kepercayaan masyarakat pada figur dari partai politik semakin menciut, sehingga mereka cenderung tidak memilih atau GOLPUT (Golongan Putih). Wajah partai-partai besar dan para anggotanya telah tercoreng. Karena itulah kemunculan figur baru dari kalangan independen atau figur nonparpol sangat dinanti-nanti.

Kesulitan Figur Baru untuk Mencuat

Mainstream masyarakat Indonesia telah terbentuk, dimana presiden yang boleh mencalonkan diri haruslah berasal dari partai politik. Padahal setiap warga berhak menjadi calon pemimpin. Partai Politik pun seolah mempropagandakan mainstream ini, dimana egoisme partai politik sangatlah tinggi hanya untuk mementingkan kepentingan anggotanya, bukan untuk kepentingan nasional. Sehingga mereka lebih mendukung figur dari golongannya untuk kepentingannya. Di lain pihak, figur independen ataupun nonparpol seolah berjalan sendiri baik dalam pendanaan maupun dalam proses pencitraan.

Pendanaan Kampanye : ”Dari-nya untuk-nya”

Pada saatnya tiba, calon-calon presiden terpilih akan banting tulang menyebarluaskan kebesaran visi, misi, dan citra positifnya melalui kampanye politik. Bukan hal yang murah, bahkan sangatlah mahal untuk mewujudkannya di media. Ini membuat peta persaingan menjadi tidak adil. Pihak yang kaya akan materi sangat diuntungkan dengan kondisi ini. Kondisi ini pun memunculkan kemungkinan adanya donatur asing yang ingin mewujudkan kepentingannya di Indonesia.

Lalu apa solusinya? Sangat mudah apabila pemerintah periode ini menginginkannya, yaitu dengan cara  memfasilitasi calon presiden baru untuk berkampanye di media. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mewajibkan media massa untuk memuat visi-misi calon presiden secara sukarela atau mengalokasikan frekuensi penyiaran khusus untuk menyiarkan visi-misi para calon presiden. Memang terdengar otoriter, namun ini untuk kepentingan nasional, bukan untuk kepentingan golongan. Dengan adanya fasilitas ini, presiden terpilih diharapkan merupakan calon presiden yang memiliki visi dan misi yang jelas dan rasional, bukan calon presiden yang terpilih karena maraknya pencitraannya di media. Selain itu, kebijakan-kebijakan yang mengandung unsur ”Dari-nya untuk-nya”  tidak akan ada, karena calon presiden tidak memerlukan donatur dari manapun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s